<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>METROLISA &#187; Teropong</title>
	<atom:link href="http://metrolisa.info/category/teropong/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://metrolisa.info</link>
	<description>Learning Internet Marketing and Marketing Strategy</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 22:17:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Disharmoni Kehidupan</title>
		<link>http://metrolisa.info/disharmoni-kehidupan.html</link>
		<comments>http://metrolisa.info/disharmoni-kehidupan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Jan 2011 03:29:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[Gayus]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metrolisa.info/?p=483</guid>
		<description><![CDATA[Negeri kita yang berpenduduk muslim terbanyak di dunia, dengan lima agama formal dan sejumlah keyakinan, yang rajin membaca ayat suci di awal dan doa di akhir suatu perhelatan, yang sejak kecil diajari berbagai macam doa sebelum makan, tidur, atau belajar, ternyata selalu masuk lima besar negara terkorup di Asia dan bahkan dunia. Perkara ini lucu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Negeri kita yang berpenduduk muslim terbanyak di dunia, dengan lima agama  formal dan sejumlah keyakinan, yang rajin membaca ayat suci di awal dan  doa di akhir suatu perhelatan, yang sejak kecil diajari berbagai macam  doa sebelum makan, tidur, atau belajar, ternyata selalu masuk lima besar  negara terkorup di Asia dan bahkan dunia. <span id="more-483"></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Perkara ini lucu selucu-lucunya, sekaligus miris semiris-mirisnya.  Dua konsep yang bertentangan secara diametral antara agama dan dosa,  beragama dan mencuri, menyatu dalam wadah bumi pertiwi. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Apa pun dan di mana pun, agama dan pencurian dan berbagai variannya  seperti korupsi, kolusi, nepotisme, suap, atau mengemplang pajak, tak  bisa disatukan. Ia seperti air dan minyak. Namun, seperti yang saya  katakan tadi; lucu dan miris, semuanya terjadi di negeri ini.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Bangsa ini sudah terbiasa memelihara ketakselarasan dan disharmoni.  Dilaporkan, di negeri ini terjadi peningkatan di bidang ekonomi melebihi  negara lain di Asia Tenggara, namun kemiskinan juga ikut melonjak  tajam.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Tiap tahun, jemaah haji Indonesia bertambah bahkan sampai antre,  tapi masih ada juga rakyat yang kelaparan. Tiap saat anggota DPR kita  pelesiran keluar negeri, lalu di saat yang sama banyak gedung sekolah  yang hampir ambruk. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Semuanya berawal dari disharmoni kata dan perilaku oleh para  pemimpin; politik, agama, hukum atau pendidikan. Pemimpin adalah  individu-individu yang dianugerahi kemampuan komunikatif yang baik dan  merepresentasi diri melalui pencitraan. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Tak ada yang menyangkal bahwa pemimpin adalah mereka yang memiliki  kemampuan retorika yang baik, yaitu kemampuan untuk mempersuasi orang  lain untuk melakukan sesuatu. Mereka sangat memukau ketika berpidato  dalam kampanye, ceramah, perayaan hari besar, di atas mimbar dan gedung  dewan. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Teori retorika modern pun membenarkan kemampuan performatif mereka  dengan memiliki penampilan menarik, bahasa tubuh, dan representasi  simbol-simbol. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Namun, ada yang salah dalam pemahaman retorika ini. Menurut  Charteris-Black (Politicians and Rhetoric, 2005) bahwa banyak pemimpin  modern saat ini yang menganggap bahwa retorika murni hanya perihal  pilihan kata dan gaya bahasa (language choice and style). </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Menurutnya, sekarang ini muncul semacam negative sense of rhetoric  as over-decorative use of language, pemahaman negatif bahwa retorika  hanya terisolasi pada penggunaan bahasa yang over-dekoratif. Retorika  hanya berkutat pada persoalan pilihan kata sebagai representasi diri  subjek untuk membangun image. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Pemicu dari semua ini medan komunikasi sangat kental dengan  kepentingan politik yang sempit yaitu kekuasaan (power) dan uang. Model  retorika yang terisolasi ini sedikit banyak telah menyumbang kegagalan  bangsa. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Seorang pemimpin yang baik adalah mereka yang bukan hanya  berkata-kata melalui rasionalisasi pemikirannya, tapi juga menjadi  teladan dalam perihal perilaku. Secara logos, pemimpin kita mampu  meyakinkan publik bahwa mereka adalah orang berpendidikan, cerdas, fasih  tentang ayat suci dan sekaligus, secara ethos, melaksanakan atau  mem-perilaku-kan apa yang dikatakannya. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Seruan melawan korupsi melalui rasionalisasi bahasa harus didukung  oleh perilaku moral anti-korupsi, yaitu jujur, sederhana, transparan,  tidak mengemplang pajak, menolak segala bentuk suap, atau menghindarkan  diri dari penggunaan fasilitas negara untuk pribadi. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Retorika penegakan hukum harus didukung dengan perilaku tegas, tidak  pandang bulu, tak ada politisasi, dan tidak melindungi pelanggar hukum.  Bukan dengan sikap lepas tangan lalu, dengan mudahnya, hanya menyatakan  sikap prihatin. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Kasus  <strong>Gayus</strong> yang semakin berkembang padahal pemimpin  kita menjanjikan penuntasannya dalam waktu cepat. Kapolri melanggar  &#8220;retorika percepatan&#8221; dengan menjanjikan penyelesaian kasus ini dalam  waktu 10 hari setelah Gayus terbukti <strong>pelesiran ke Bali</strong>,  sampai  sekarang kosong.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dengan melihat dan memahami fakta ini, sekarang kita mulai mengerti kenapa diantara kita  ada yang rajin salat dan hafal pancasila masih saja  korupsi. Ternyata itu hanya pencitraan untuk mengelabui publik agar  mendapatkan uang, fasilitas, dan kekuasaan. &#8220;Alangkah lucunya negeri ini&#8221;.<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metrolisa.info/disharmoni-kehidupan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Tahun Baru &#124; Mari Mulai Melangkah dengan Istighfar Nasional</title>
		<link>http://metrolisa.info/hari-tahun-baru-mari-mulai-melangkah-dengan-istighfar-nasional.html</link>
		<comments>http://metrolisa.info/hari-tahun-baru-mari-mulai-melangkah-dengan-istighfar-nasional.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Jan 2011 06:22:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Tahun Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Istighfar Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metrolisa.info/?p=478</guid>
		<description><![CDATA[Hari Tahun Baru , Hari ini 010111 hari pertama di tahun yang baru Mari merenungi hari kemarin  dengan Introspeksi Mari luruskan niat dengan hati yang bersih Mari bergandengan tangan dengan tekad yang suci Mari memulai langkah dengan Istighfar Tobat adalah kunci untuk menempuh perjalanan menuju rida Allah SWT. Sang Khalik berfirman, &#8220;Sungguh Allah mencintai orang-orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3 style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Hari Tahun Baru</strong> , </span></h3>
<h3 style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Hari ini 010111 hari pertama di tahun yang baru</span></h3>
<h3 style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Mari merenungi hari kemarin  dengan Introspeksi</span></h3>
<h3 style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Mari luruskan niat dengan hati yang bersih</span></h3>
<h3 style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Mari bergandengan tangan dengan tekad yang suci</span></h3>
<h3 style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Mari memulai langkah dengan Istighfar<span id="more-478"></span></span><span style="color: #000080;"><br />
</span></h3>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Tobat adalah kunci untuk menempuh perjalanan menuju rida Allah SWT. Sang  Khalik berfirman, &#8220;Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertobat  dan mencintai orang yang menyucikan diri (QS Albaqarah [2]:222).  Rasulullah bersabda, &#8220;Orangorang yang bertobat adalah kekasih Allah dan  orang-orang yang bertobat dari dosa adalah seperti orang yang tak  berdosa.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Menurut Al-Ghazali, hakikat tobat adalah kembali menuju  jalan yang diridhai Allah. Diawali dengan keyakinan iman bahwa dosa-dosa  itu adalah racun yang membinasakan, kemudian memengaruhi perilaku  dengan perasaan takut dan penyesalan terhadap apa yang telah dilakukan,  dan kesiapan untuk meninggalkannya serta tak meng-ulangnya kembali.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Nabi  SAW bersabda, &#8220;Sesungguhnya hatiku ini diliputi oleh syahwat sehingga  aku memohon ampun (beristigfar) kepada Allah SWT dalam sehari semalam  sebanyak tujuh puluh kali.&#8221; Delapan tahun terakhir, negara kita tak  henti-hentinya ditimpa berbagai bencana, mulai dari tsunami, gempa bumi,  meletusnya gunung berapi, banjir, longsor, kebakaran hutan, pesawat  jatuh, kapal laut tenggelam, tabrakan kereta api, gagal panen, dan  musibah lainnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Ribuan jiwa meninggal dunia dan kerugian lainnya  yang bila dihitung secara material begitu banyak hingga akhirnya  memengaruhi kehidupan ekonomi, sosial, dan politik. Menjelang awal tahun  2011 M dan mengawali tahun baru 1432 H, marilah kita bermuhasabah,  introspeksi diri, dan istighfar nasional secara bersama-sama tanpa  menyalahkan siapa pun. Barangkali apa yang kita lakukan selama ini  terdapat hal-hal yang kurang diridhai Allah SWT.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">&#8220;Sesungguhnya  jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan  jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat  pedih.&#8221; (QS Ibrahim [14]:7).</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Marilah kita songsong kegembiraan  Allah SWT yang selalu menerima tobat hamba-Nya dengan kalimat istighfar  secara nasional.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metrolisa.info/hari-tahun-baru-mari-mulai-melangkah-dengan-istighfar-nasional.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Do&#8217;a Akhir Tahun 2010</title>
		<link>http://metrolisa.info/doa-akhir-tahun-2010.html</link>
		<comments>http://metrolisa.info/doa-akhir-tahun-2010.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Dec 2010 01:40:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[Do'a]]></category>
		<category><![CDATA[Muhasabah]]></category>
		<category><![CDATA[Selamat Tahun Baru 2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metrolisa.info/?p=474</guid>
		<description><![CDATA[Ya Allah ya Tuhan kami Berikan kekuatan lahir bathin bagi kami Agar mudah bagi kami dalam melalui segala rintangan, tantangan, cobaan dan hambatan dalam hidup ini Jangan Engkau berikan cobaan yg berat kepada kami Yang tak sanggup kami pikul sebagaimana cobaan kepada pendahulu kami Berikan kenikmatan, kemuliaan dan rejeki yg berlimpah kepada kami Seperti yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000080;">Ya Allah ya Tuhan kami<br />
Berikan kekuatan lahir bathin bagi kami<br />
Agar  mudah bagi kami dalam melalui segala  rintangan, tantangan, cobaan dan  hambatan dalam hidup ini<br />
Jangan Engkau berikan cobaan yg berat kepada  kami<br />
Yang tak sanggup kami pikul sebagaimana cobaan kepada pendahulu  kami<span id="more-474"></span></span><span style="color: #000080;"><br />
Berikan kenikmatan, kemuliaan dan rejeki yg berlimpah kepada  kami<br />
Seperti yang telah Engkau berikan kepada pendahulu kami<br />
Ampuni  dosa kami, keluarga kami, para sahabat kami dan seluruh umat-Mu ini<br />
Agar  ringan langkah kami menapaki kehidupan ini<br />
Ya Allah ya Tuhan kami<br />
Jadikanlah  anak cucu kami dan keturunan kami<br />
Menjadi orang yang berguna bagi  nusa, bangsa, keluarga dan agama<br />
Bekali mereka dengan rasa cinta  kasih yang ikhlas<br />
Hilangkan mereka dari sifat iri dan dengki<br />
Tanamkanlah  rasa cinta terhadap sesama kepada mereka<br />
Sebagaimana kami mencintai  mereka</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Ya Tuhan Kami<br />
Ridhoilah jalan kami<br />
Tunjukkan yang  benar itu benar<br />
Tunjukkan yang salah itu salah<br />
Kabulkanlah doa  kami<br />
Agar negeri ini bangkit dari keterpurukan<br />
Agar negeri ini  menjadi negeri yang di hormati<br />
Karena kebersamaan dan persatuannya<br />
karena  keanekaragamannya<br />
Karena kasih dan sayang antar sesamanya<br />
Karena  ke Bhineka Tunggal Ika-annya<br />
Bukan menjadi negeri yang di cela<br />
Karena  perpecahannya dan perbedaannya<br />
Karena korupsi dimana mana<br />
Karena  bencana tak jua reda</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Ya Allah kami disini bersujud memohon  Kepada-Mu<br />
Kabulkanlah doa kami yang hina dihadapan-Mu<br />
Yang  berharap setitik kasih-Mu<br />
Yang hanya bisa berharap dan meminta  keridhoan-Mu<br />
Amien Amin Amin Ya Rabbal Alamin.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metrolisa.info/doa-akhir-tahun-2010.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Final AFF Suzuki Cup 2010 &#124; Sarana Membangun Spirit, Kepercayaan, dan Kebersamaan</title>
		<link>http://metrolisa.info/final-aff-suzuki-cup-2010-sarana-membangun-spirit-kepercayaan-dan-kebersamaan.html</link>
		<comments>http://metrolisa.info/final-aff-suzuki-cup-2010-sarana-membangun-spirit-kepercayaan-dan-kebersamaan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Dec 2010 07:20:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[Bukit Jalil National Stadium]]></category>
		<category><![CDATA[Final AFF Susuki Cup 2010]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia Vs Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Skuad Garuda]]></category>
		<category><![CDATA[Tim Nasional Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metrolisa.info/?p=468</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sekian lama masyarakat pencinta sepak bola di tanah air tidak mendapatkan hiburan kemenangan dari Tim Kesebelasan Nasional Indonesia di tingkat Asia Tenggara (ASEAN), maka pada laga pertandingan AFF Suzuki Cup 2010 ini, kita mendapatkan suatu suguhan penampilan permainan dari Timnas Indonesia yang memukau. Skuad Garuda  mampu mengatasi dan memenangkan  pertandingan demi pertandingan hingga mengantarkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Setelah sekian lama masyarakat pencinta sepak bola di tanah air tidak  mendapatkan hiburan kemenangan dari Tim Kesebelasan Nasional Indonesia  di tingkat Asia Tenggara (ASEAN), maka pada laga pertandingan AFF Suzuki Cup 2010 ini, kita mendapatkan suatu suguhan penampilan  permainan dari Timnas Indonesia yang memukau. <span id="more-468"></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Skuad Garuda  mampu mengatasi dan memenangkan   pertandingan demi pertandingan hingga mengantarkan Tim Merah putih untuk berlaga di <strong>Bukit Jalil National Stadium</strong>.  Seketika dukungan spontanitas  masyarakat mengalir sebagai bentuk apresiasi atas  prestasi yang membawa nama baik keharuman  bangsa yang bisa dibanggakan. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Suasana kehidupan batin masyarakat kita cukup mencekam dalam  beberapa tahun ini, akibat hiruk-pikuknya politik (pemilu, pilpres,  pemilukada), kasus-kasus korupsi, ancaman terorisme, kemudian bencana,  yang bertubi-tubi silih berganti yang sampai sekarang enggan untuk reda serta suasana yang semakin meningkatnya harga kebutuhan dasar, biaya sekolah,  transportasi dan lain-lain. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Apa yang dipersembahkan timnas sepak bola kita saat ini adalah hasil  dari suatu proses kerja panjang secara kolektif dari organisasi yang  bernama Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), sang pelatih,  pemain dan dukungan pemerintah, dunia usaha dan penonton pecinta sepak  bola. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Unsur-unsur pendukung tersebut saling berkait, yang didasari dari  suatu spirit untuk bersama-sama membangun timnas yang tangguh dengan  mengerahkan segala daya dan upaya yang dimiliki serta kepercayaan  sepenuhnya secara proporsional. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Memberikan otoritas penuh kepada pelatih untuk menentukan pemilihan  pemain dan strategi memenangkan pertandingan yang merupakan unsur yang  sering mendapat intervensi dari pihak lain. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Demikian halnya dengan pihak pemerintah, dapat ikut merasakan dan  mengapresiasikan bagaimana proses kelahiran sebuah timnas sepak bola  yang solid, yang dapat dibanggakan, yang membutuhkan dukungan sinergi  banyak unsur, terutama prasarana tempat latihan yang memadai, pembinaan,  regenerasi pemain, kesejahteraan pemain dan sebagainya. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Pada laga final AFF inilah saatnya kita menjadikan simpul untuk  mencairkan sekat-sekat sentimen aliran partai politik, etnis dan agama  untuk saling merangkul, bergandengan tangan menyatukan energi untuk  membangun solidaritas dan kepercayaan sesama anak bangsa untuk kemudian  direfleksikan dalam praktik kehidupan berpolitik, berbangsa dan  bermasyarakat. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Kita tegak bersama untuk membela kehormatan dan kedaulatan negara  yang kita cintai. Kita sinergikan energi positif, kita apresiasi  sewajarnya kepada putra-putra bangsa yang memiliki energi prestasi lebih  yang diabadikan untuk bangsanya. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Saatnya, momentum dalam perebutan mahkota emas piala AFF menjadi  sebuah renungan dan doa. Semoga pencapaian mahkota itu memberi hidayah  untuk penyatuan energi bangsa Indonesia bersatu, menjaga martabat dan  Garuda di sanubari kita semua. Garuda di dadaku, dan Garuda  kebanggaanku. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dukungan yang telah diberikan oleh masyarakat hendaknya dapat  diapresiasi baik oleh penyelenggara (PSSI/AFF) sebagai suatu modal utama  yang perlu dijaga dan dirawat kontinuitasnya untuk suatu  perjalanan  dan perjuangan jangka panjang yang tidak sebatas sampai pada  tahap  piala AFF 2010 saja. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Oleh karena itu, modal utama atau modal dasar ini hendaknya tidak  dilihat sebagai peluang/kesempatan untuk meraup kelebihan guna menutupi  biaya-biaya penyelenggaraan dan apapun itu alasan dan kebutuhan yang  lain. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Imbauan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono semestinya menjadi  pertimbangan bagi PSSI untuk tidak menaikkan harga tiket pada leg kedua  final, di mana akan bertemu Timnas Indonesia versus Timnas Malaysia 29  Desember 2010 di Stadion Utama Gelora Bung Karno bagi masyarakat yang  ingin datang menyaksikan langsung dari dekat. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Kata-kata presiden dapat ditafsirkan bahwa suasana batin, apresiasi  masyarakat Indonesia yang jumlahnya sekian juta orang ingin menyaksikan  pertandingan melalui layar kaca televisi sesungguhnya dapat diberi  kompensasi dalam bentuk subsidi negara atau adanya prakarsa  penyelenggara mengadakan fundrising/urunan dana dengan sejumlah  pengusaha berskala besar di tanah air yang mungkin saja di antara  mereka-mereka itu juga pencinta bola/pemerhati timnas dan sudah  mengenakan kaus/simbol Garuda dan merah putih di dadanya. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dalam membangun suatu siprit, kepercayaan dan kebersamaan tidak bisa  dikalkulasi dan didekati secara hitungan matematis atau perhitungan  dagang, oleh karena ada fase-fase tertentu kita merugi secara materil  untuk pencapaian suatu target fase idealisme yang sekaligus bisa  bernilai materil. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dari sisi inilah diperlukan adanya kearifan dan integritas seorang  figur pemimpin yang dapat menentukan pilihan yang berpihak kepada  semangat perjuangan jangka panjang, yang tidak berpikir untuk  kepentingan sesaat dan dirinya atau komunitasnya sendiri di saat seperti  sekarang ini. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Mari bersama untuk mendukung tim nasional kita dengan  kekuatan dan keunggulannnya, dengan kecepatan, umpan bola pendek satu  langka, dari kaki ke kaki, sampai menjadi peluang tercetaknya gol.  Siapapun yang kemudian melakukan penyelesaian akhir yang bagus, dan  berhasil  membuahkan peluang itu menjadi gol, maka kita ucapkan bravo  timnas kita. Garuda di dada kita semua.<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metrolisa.info/final-aff-suzuki-cup-2010-sarana-membangun-spirit-kepercayaan-dan-kebersamaan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bencana Yang Sesungguhnya</title>
		<link>http://metrolisa.info/bencana-yang-sesungguhnya.html</link>
		<comments>http://metrolisa.info/bencana-yang-sesungguhnya.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Dec 2010 03:54:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana Alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metrolisa.info/?p=456</guid>
		<description><![CDATA[Pada umumnya ketika disebut bencana, yang ada di benak orang hanya bencana alam. Padahal bencana amat banyak macamnya. Ada bencana fisik, ada juga bencana bukan fisik. Juga pada umumnya orang juga hanya takut dengan bencana fisik. Orang takut gunung api meletus, takut ada gempa tektonik, takut ada tsunami, takut banjir, takut tanah longsor, takut kebakaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Pada umumnya ketika disebut bencana, yang ada di benak orang hanya  bencana alam. Padahal bencana amat banyak macamnya. Ada bencana fisik,  ada juga bencana bukan fisik.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Juga pada umumnya orang juga hanya takut dengan bencana fisik. Orang  takut gunung api meletus, takut ada gempa tektonik, takut ada tsunami,  takut banjir, takut tanah longsor, takut kebakaran hutan, takut flu  babi, flu burung, dan sebagainya. <span id="more-456"></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Korupsi merajalela sebenarnya juga bencana. Politik kotor juga  bencana. Pemilukada dan Pemilu tidak jujur juga bencana. Maksiat di  mana-mana juga bencana. Namanya bencana non fisik, bencana kemanusiaan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Tampaknya orang-orang tidak terlalu takut dengan bencana yang satu  ini. Maksiat malah dibisniskan. Korupsi malah dibudayakan. Politik kotor  malah diorganisasikan.<br />
Padahal yang namanya bencana pasti merusak, pasti destruktif.  Seperti halnya bencana alam mengakibatkan kerusakan, bencana kemanusiaan  juga mengakibatkan kerusakan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Kerusakan akibat bencana alam memang cepat dirasakan. Beda dengan  bencana kemanusiaan, prosesnya panjang sehingga kerusakannya baru  dirasakan dalam waktu panjang pula. Ketika kerusuhan terjadi di beberapa  daerah di negeri kita beberapa waktu lalu, maka serempak terjadi dua  model bencana.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Ada bencana fisik seperti gedung dan rumah-rumah terbakar hingga  tidak tersisa. Juga ada bencana non fisik yaitu bencana kemanusiaan  berupa permusuhan antarmanusia. Dalam waktu yang tidak terlalu lama  rumah-rumah dan gedung yang terbakar sudah diperbaiki dan pulih  keadaannya. Tapi rusaknya hubungan kemanusiaan belum sepenuhnya pulih.  Itu sekadar sebuah contoh.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Jadi, sebenarnya bencana non fisik atau bencana kemanusiaan tidak  kalah berbahayanya dari bencana fisik. Korupsi uang negara bisa lebih  berbahaya dari erupsi gunung berapi. Korupsi bisa menguras uang negara  sampai triliunan rupiah, erupsi gunung berapi hanya menguras beberapa  miliar untuk rehabilitasi.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Memang pada bencana alam ada korban nyawa manusia yang tidak bisa  diukur dengan uang. Tapi bencana korupsi besar juga membuat banyak  rakyat menderita bagai dibunuh pelan-pelan. Malah yang begitu lebih  mengerikan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dari sejarah kehidupan manusia masa lalu, tercatat banyak kaum yang  dimusnahkan Allah dengan azab berupa bencana alam. Artinya, bencana  kemanusiaan yang berkepanjangan dalam bentuk kerusakan moral yang parah  dan massif bisa berujung pada bencana alam yang meluluh-lantakkan.  Puing-puing dan sejarahnya masih ada hingga kini.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Tentu kita tidak ingin menambah bukti sejarah itu untuk pelajaran  anak cucu kita, bahwa sebuah negeri yang penduduknya sebagian besar  hidup dengan cara korup, dan menikmati hasil korupsinya melalui berbagai  kesenangan maksiat, kini hanya tinggal sejarah. Padahal, negeri itu  dulunya indah, namanya Indonesia.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metrolisa.info/bencana-yang-sesungguhnya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masihkah ada pahlawan Tanpa Pamrih?</title>
		<link>http://metrolisa.info/masihkah-ada-pahlawan-tanpa-pamrih.html</link>
		<comments>http://metrolisa.info/masihkah-ada-pahlawan-tanpa-pamrih.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Dec 2010 08:27:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Pahlawan tanpa Pamrih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metrolisa.info/?p=452</guid>
		<description><![CDATA[Dulu bahkan ada penilaian bahwa guru merupakan pahlawan tanpa pamrih. Tapi seiring proses modernisasi dan industrialisasi, dengan sendirinya menuntut kaum guru untuk memperoleh kehidupan ekonomi yang lebih baik. Memang guru menempati posisi yang cukup terhormat di mata publik. Soalnya, guru dihormati lantaran masyarakat meyakini kalau guru dapat mendidik anak mereka agar menjadi orang yang memiliki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dulu bahkan ada penilaian bahwa guru merupakan pahlawan tanpa pamrih.  Tapi seiring proses modernisasi dan industrialisasi, dengan sendirinya  menuntut kaum guru untuk memperoleh kehidupan ekonomi yang lebih baik.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Memang guru menempati posisi yang cukup terhormat di mata publik.  Soalnya, guru dihormati lantaran masyarakat meyakini kalau guru dapat  mendidik anak mereka agar menjadi orang yang memiliki kepribadian baik.  <span id="more-452"></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Karena itu, guru pun harus menjadi panutan bagi murid mereka yang  memiliki sifat suka meniru. Terlebih lagi, tujuan pendidikan adalah  untuk membentuk pribadi mulia anak didik. Untuk itu, guru tidak boleh  melakukan perbuatan asusila serta perilaku anti sosial lainnya. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Sebetulnya, tugas guru cukup kompleks sebab selain mentransfer ilmu  dan pengetahuan kepada anak didik, juga ia berperan sebagai pelatih yang  diharapkan mampu mengembangkan bakat dan keterampilan peserta didik. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Untuk memainkan peran mulia itu, tentu guru senantiasa dituntut  bekerja profesional sesuai kualifikasi dan kompetensinya seperti  ditegaskan Pasal 8, BAB 1V UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.  Itu pula mengapa masyarakat acapkali menilai guru sebagai pahlawan  pendidikan dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, wajarlah jika guru  memperoleh haknya secara profesional dengan gaji yang layak. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Keberadaan guru di lembaga pendidikan adalah untuk membimbing anak  didik sehingga mereka tumbuh menjadi manusia yang cakap dan terampil  sebab tanpa adanya bimbingan guru, tentu saja anak didik akan mengalami  kesulitan dalam  membentuk kepribadiannya. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Terlebih lagi, untuk membangun manusia seutuhnya sudah barang tentu  diperlukan manusia yang memiliki potensi untuk dididik, dilatih,  dibimbing dan dikembangkan menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan  negara. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Oleh karena para peserta didik selalu dituntut supaya memiliki  kepekaan sosial yang kuat di samping rasa percaya diri yang tinggi  dengan didukung sifat yang ikhlas, inovatif, responsif dan kreatif yang  menjadi tumpuan harapan di masa depan. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Maka dari itu, para gurupun harus mampu menciptakan atmosfer  akademik yang tertib, nyaman dan menyenangkan. Dengan demikian,  keberadaan guru menjadi sangat penting bagi keberhasilan siswa terutama  bagi guru yang melaksanakan kegiatannya dengan penuh rasa tanggung  jawab. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dalam konteks ini, posisi guru akan menjadi inspirator yang dapat  menanamkan harapan kepada siswa. Di samping itu, selain memberi  pengetahuan berkualitas pada anak didik sehingga merasa nyaman dalam  belajar, juga para guru harus mampu meningkatkan kompetensi siswa. Dalam  hal ini, guru profesional tentu saja senantiasa mengupayakan siswanya  agar dapat belajar dengan baik. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Guru memang perlu membangkitkan motivasi  serta semangat pada siswa  dengan cara menggunakan otoritasnya dalam membangun ide dan menciptakan  situasi yang mendorong prakarsa, kreativitas dan tanggung jawab siswa  untuk belajar. Untuk merealisasikan hal ini, sudah pasti diperlukan  adanya lembaga pendidikan yang sehat dan bisa melakukan proses pembinaan  sesuai kebutuhan peserta didik. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Selain itu, guru juga berperan untuk meningkatkan kemampuan anak  didik, baik yang sifatnya teoritis maupun pragmatis agar mereka dapat  mengembangkan keterampilan yang dimilikinya sebagai hasil dari sebuah  proses belajar. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Untuk mencapai tujuan ini, guru harus mempersiapkan diri dengan cara  menguasai materi ajar, mengakomodasi kesulitan belajar yang dihadapi  peserta didik serta membina hubungan baik dengan unsur civitas akademika  lainnya. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Sedangkan tersedianya sarana pendidikan yang cukup di semua jenjang,  sudah merupakan prasyarat yang diperlukan untuk membangun kualitas  manusia yang terampil, cakap dan inovatif sesuai tuntutan perkembangan  iptek. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Tentu kita semua tahu bahwa hanya dengan sumber daya manusia yang  terlatih maka pemerintah dengan semua perangkat birokrasinya dapat  memenuhi tuntutan publik dalam membangun bangsa. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dengan demikian, tidaklah mengherankan apabila masalah pengabdian,  kesejahteraan dan posisi guru dalam sektor pendidikan seringkali menjadi  isu sentral dalam wacana public. Bahkan, kerapkali menjadi wilayah  perdebatan di kalangan kaum akademisi, praktisi pemerintahan, aktivis  LSM, politikus serta pemerhati masalah guru dan pendidikan. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Hal lain yang turut memengaruhi kualitas belajar mengajar adalah  dukungan sarana pendidikan. Sedangkan komponen institusi pendidikan yang  lain yang meliputi aspek manajemen, leadership, guru dan unsur lainnya,  ikut memengaruhi pengelolaan institusi pendidikan sehingga hasil yang  diharapkan dalam upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia  bisa tercapai. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Bahkan sebenarnya bukan cuma itu, kualitas peserta didikpun dapat  diamati dari adanya kepuasan orang tua dan stakeholders lainnya yang  ikut memberi kontribusi bagi pengelolaan sarana pendidikan karena  masalah edukasi dipandang sebagai human capital yang memiliki manfaat  luar biasa, baik secara perorangan maupun per kelompok. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Selain itu, pendidikan juga berguna bagi mereka yang melakukannya  berupa peningkatan ketrampilan serta keahlian yang relevan dengan  kehidupan manusia. Dengan demikian, pendidikan akan memberi keuntungan  sosial sebagai akibat dari sebuah proses yang diyakini dalam bentuk  investasi sumber daya manusia yang mampu meningkatkan produktivitas pada  semua komponen masyarakat. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Adapun makna sumber daya manusia di sini bukan berarti bahwa kita  mengeksploitasi tenaga manusia secara tidak manusiawi melainkan  investasi manusia dianalisis secara luas dan terarah. Alasannya, dalam  teori human capital yang mana pendidikan dan pelatihan yang dilakukan  oleh suatu lembaga akan memberi dampak pada peningkatan pengetahuan,  keterampilan dan  produktivitas khususnya di masa yang akan datang. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dalam konteks terbentuknya iklim yang lebih kondusif dalam  lingkungan institusi pendidikan yang diharapkan dapat menjamin  terciptanya suasana yang nyaman, tenang serta bergairah, maka semua  elemen yang ada dalam institusi itu harus memiliki sinergitas yang kuat  di antara satu sama lain dalam upaya mencapai tujuan yang telah  ditentukan sebelumnya. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Apa yang kita pahami tentang tempat belajar harus dimaknai sebagai  suatu pranata pendidikan yang memiliki faktor pendukung tertentu  termasuk para guru, peserta didik, kurikulum, aspek finansial,  perpustakaan serta fasilitas yang lain. Namun, sebuah institusi  pendidikan hanya bisa dianggap efektif manakala ia menjalankan fungsinya  sebagai wadah yang paling baik dalam melaksanakan proses belajar  mengajar yang berkualitas bagi anak didik.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metrolisa.info/masihkah-ada-pahlawan-tanpa-pamrih.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggali Kekuatan Diri</title>
		<link>http://metrolisa.info/447.html</link>
		<comments>http://metrolisa.info/447.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Nov 2010 05:10:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[Kekuatan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metrolisa.info/?p=447</guid>
		<description><![CDATA[Kita semua pasti menginginkan kekuatan. Selama ini kita mengasosiasikan kekuatan dengan harta dan materi, jabatan, kekuasaan atau keahlian. Menurut Hukum Sebab-Akibat (The law of cause and effect) pengertian kekuatan di atas lebih banyak mengarah pada pengertian kekuatan sebagai akibat dari pada sebuah sebab. Kepemilikan materi adalah akibat, karena tidak ada orang yang lahir dengan materi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Kita semua pasti menginginkan kekuatan. Selama ini kita mengasosiasikan kekuatan dengan harta dan materi, jabatan, kekuasaan atau keahlian. Menurut Hukum Sebab-Akibat (The law of cause and effect) pengertian kekuatan di atas lebih banyak mengarah pada pengertian kekuatan sebagai akibat dari pada sebuah sebab. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Kepemilikan materi adalah akibat, karena tidak ada orang yang lahir dengan materi. Jabatan adalah akibat karena jabatan tidak pernah mendatangi seseorang kecuali setelah kita memiliki alasan untuk menerima jabatan (kehormatan).<span id="more-447"></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"> Keahlian pun akibat karena tidak semua orang yang punya ilmu atau punya pengalaman bisa dikatakan ahli kecuali setelah ada usaha mensinergikan keduanya. Jadi, jika ada akibat, pastilah ada sebabnya. Lalu apakah atau siapakah yang layak menjadi sebab itu? Jawabannya adalah, <strong>kekuatan diri!!</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Kekuatan diri adalah kekuatan yang lahir dari dalam diri pribadi kita. Kalau menurut pengalaman sejumlah orang berprestasi di bidangnya dan pendapat para pakar SDM, kekuatan diri ini bisa bermacam-macam bentuknya tetapi mengacu pada sebuah poin penting berikut ini.<br />
<strong><br />
Arnold Schwarzenegger</strong></span> <span style="color: #000080;"> menyimpulkan bahwa kekuatan itu tidak didapat dari kemenangan (winning) misalnya saja kekuasaan, kekayaan atau keahlian tetapi dari perjuangan meraih kemenangan itu. Ketika kamu terus berjuang melawan rintangan dan bersumpah tidak akan menyerah, maka itulah kekuatan. Kalau kita menang lalu kemenangan itu akan membuat kita kuat, tentu ini sudah pasti, tetapi adakah kemenangan yang diraih oleh lemahnya perjuangan?</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Perjuangan  akan membuat orang dari yang semula bukan apa-apa berubah menjadi apa-apa; mengubah seseorang dari yang semula tidak memiliki apa-apa menjadi memiliki apa yang diinginkan. Sebaliknya tanpa kekuatan dan perjuangan akan membuat orang yang semula memiliki, berubah menjadi tidak memiliki; mengubah orang yang semula &#8216;menjadi&#8217; ke tidak menjadi.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Kekuatan diri juga mengacu pada kekuatan keputusan hidup. Semua orang pada dasarnya sudah mengambil keputusan untuk hidupnya dan sepanjang hidupnya. Tetapi, ada keputusan yang mencerminkan kekuatan diri dan ada pula keputusan yang mencerminkan kelemahan. Keputusan yang pertama adalah keputusan yang lahir dari dalam diri kita dengan kesadaran bahwa kita sedang memutuskan sesuatu; dengan pemahaman bahwa keputusan yang kita ambil tidak bertentangan dengan aspek ke-diri-an kita, kemampuan kita dan arah hidup yang kita tuju. Lao-Tzu menyimpulkan bahwa orang yang sudah menang melawan dirinya (baca: bisa menyuruh dan melarang) adalah orang yang punya kekuatan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Sementara keputusan yang kedua adalah, keputusan yang didapat dengan cara menerima semua pendapat orang lain ATAU menolak semua pendapat orang lain. Menerima seluruhnya adalah kelemahan sedangkan menolak seluruhnya adalah kekerasan-kepala (stubborn) yang juga cermin dari kelemahan. Menerima dan menolak seluruhnya adalah cerminan dari keputusan yang bukan dengan kesadaran dan pemahaman dari dalam melainkan ikut-ikutan pada tawaran (stimuli) dari luar tanpa proses pengolahan di dalam, atau bisa jadi karena impulsivitas emosi. Sehingga, ketika keputusan itu dijalankan, perbuatan yang dilahirkan oleh keputusan itu biasanya bukanlah aksi (tindakan atas dasar niat) tetapi reaksi (tindakan tanpa niat).</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Kekuatan diri juga bisa berbentuk tanggung jawab untuk mengambil, memilih dan melaksanakan tugas-tugas yang diperlukan untuk menjadi penyebab (sumber solusi) bagi diri kita. Memang, manusia lahir sebagai akibat dari kreativitas Tuhan. Namun kita pun diberi tugas untuk mengubah keadaan kita yang awalnya hanya sebagai akibat, menjadi sebab.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Sebenarnya, kita sudah diberi kemampuan untuk menjadikan tugas sebagai sebab, namun kemampuan itu masih bersifat laten (tidak actual/termanifesta sikan). Kita sendiri yang harus menggali, mengasah dan mengembangkan kemampuan yang ada (potensi, prestasi, keahlian, ketrampilan) , yang sejauh ini masih bersifat latent.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Agar kita tidak terlalu lama &#8216;menganggur&#8217; dan jadi &#8216;passive&#8217; dalam status &#8216;akibat&#8217;, adalah dengan mengubah paradigma berpikir kita, dan memperbaharui pemahaman diri bahwa kita adalah penyebab. Konsekuensinya, kita harus makin bertanggung jawab pada hidup dan diri kita sendiri, karena kitalah yang menginginkan hidup ini menjadi lebih baik. Besar-kecilnya rasa tanggung jawab seseorang terhadap perubahan status hidupnya, dari akibat menjadi penyebab akan menentukan besar-kecilnya aksi serta usaha yang dikeluarkan untuk meraih prestasi. George Washington Carver menyimpulkan bahwa 99 % kegagalan, justru berasal dari sikap mental kita yang membiarkan diri ber-status &#8216;akibat&#8217;.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Selama kita tidak pernah mengaktifkan potensi itu menjadi prestasi atau pun kemampuan aktual, selama itu pula kita tidak akan pernah tahu kelebihan kita. Seperti yang dikatakan oleh Martina Grim bahwa kreasi yang kita hasilkan, sesungguhnya merupakan materi yang menunjukkan siapa diri kita. Selama kita menyalahkan orangtua, lembaga, atau lingkungan sebagai penyebab kelemahan kita, selama itu pula kita tidak pernah berusaha untuk memperkuat diri. Kathy Simmons dalam EQ: What Smart Managers Know (Executive Update: 2001) menyimpulkan bahwa kekuatan diri, akan selalu dibangun di atas keahlian dan kecerdasan emosional. Oleh sebab itu, manusia sebaiknya bersikap proaktif dalam menyambut dan mengambil tanggung jawab demi mengubah keadaan diri sendiri, dari sumber persoalan menjadi sumber solusi.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Ada beberapa strategi yang mungkin sekali dapat kita pilih sebagai cara untuk menambah kekuatan diri, yaitu:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong><span style="text-decoration: underline;">a. Learning to be</span></strong><br />
Kalau materi adalah kekuatan, keahlian adalah kekuatan atau jabatan adalah kekuatan, maka semua itu benar dan semua itu sudah diketahui oleh hampir setiap orang. Tetapi, hanya sedikit orang yang tahu, apa yang membuat diri kita memiliki kekuatan internal yang diinginkan. Memang, &#8216;memiliki&#8217; (to get to have) adalah keinginan umum semua orang &#8211; sementara, &#8216;menjadi&#8217; belum tentu keinginan semua orang. &#8216;menjadi&#8217; atau to be, adalah sebuah keinginan spesifik untuk mewujudkan apa yang sesuai dengan kesejatian diri kita.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Charles Handy pernah menulis yang isinya antara lain menyayangkan mengapa sebagian besar orang mengedepankan cara berpikir untuk memiliki lebih dulu (to get / to have), bukannya &#8216;menjadi&#8217; (to be) lebih dulu. Tidak berarti salah, tetapi memiliki itu lebih banyak bernuansa &#8216;akibat&#8217; yang diciptakan oleh &#8216;sebab&#8217;. Berpikir untuk &#8216;Memiliki&#8217; (to get/to have) bersumber dari pendekatan hidup yang memposisikan kekuatan eksternal sebagai Sebab yang berarti diri kita adalah Akibat. Jadi, dalam konteks demikian, diri kita menjadi peserta pasif dalam hidup kita sendiri, bukan lah pelaku atau sebab, melainkan obyek penderita alias akibat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Pendapat di atas rasa-rasanya sudah klop dengan ajaran leluhur kita yang mengutamakan cita-cita (willing to be) lebih dulu. Hampir semua orangtua sudah terbiasa menanamkan semangat untuk &#8216;menjadi&#8217; (to be) lebih dulu kepada putera-puterinya ketimbang semangat untuk &#8216;memiliki&#8217; (to get/to have). Dari tipikal kehidupan masyarakat yang demikian ini, seharusnya sebagian besar dari kita dipastikan sudah mempunyai gambaran mental untuk menjadi (to be). Persoalan bahwa ada gambaran mental yang masih cocok dan ada yang meleset sama sekali, atau ada yang belum cocok, tentu ini urusan lain alias tergantung pilihan kita dan proses-proses kehidupan yang akan kita lalui: bisa diperkecil, disesuaikan, diperjuangkan, di-break-down, dilanjutkan dan seterusnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>b.To know</strong><br />
Untuk &#8216;menjadi&#8217; menurut apa yang kita inginkan, jelas bukan gratis tetapi membutuhkan cakupan pengetahuan yang disyaratkan oleh hukum alamiah dan tatanan ilmiah yang sifatnya sangat spesifik, yaitu : tergantung pada pilihan kita (depend on our own choice). Bagaimana agar kita mengetahui apa yang dibutuhkan untuk bisa merealisasikan proyek-proyek pengembangan diri kita untuk &#8216;menjadi&#8217; ? Ada beberapa cara :<br />
</span></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"> Mengetahui diri kita (self-knowledge) : keinginan / peluang kemampuan / kekuatan, hambatan dan kelemahan.</span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"> Mengetahui situasi dan kondisi, tuntutan dan tantangan yang akan, perlu dan harus dihadapi sebagai konsekuensi dari pilihan yang kita ambil untuk &#8216;menjadi&#8217;.</span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"> Mengetahui beberapa alternative cara yang disajikan oleh berbagai pengetahuan dan pengalaman kita untuk menjadi seperti apa yang kita inginkan.</span></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Pengetahuan menyeluruh dan spesifik tentang aspek diri, kita akan membuat kita tahu tentang hal yang penting dan yang tidak penting bagi kita. Kalau kita menyimpulkan gelar akademik itu tidak penting tetapi keinginan kita untuk &#8216;menjadi&#8217; (to be) secara riil mensyaratkan adanya gelar itu, berarti pemahaman kita belum akurat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>c. To Do</strong><br />
Dalam hal kekuatan, unsur mendasar dalam melakukan adalah kecocokan. Melakukan asal melakukan (ber-aktivitas harian) sudah dijalani oleh semua orang, tetapi sedikit orang yang menjalankan apa yang memang cocok dengan pengetahuan dan keinginan sesuai dengan tujuannya untuk &#8216;menjadi&#8217;. Melakukan seperti ini jelas membutuhkan rumusan tujuan (goal), sasaran kecil (target) dan perencanaan beraksi (action plan) yang fleksibel dan kokoh sehingga kita tidak terjebak dalam praktek yang menjadikan aktivitas sebagai tujuan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Menjadi (To be), Mengetahui (To know), dan Melakukan (To do) adalah tiga elemen yang punya relevansi tinggi dengan kadar perjuangan, bobot keputusan ber-aksi, dan kadar tanggung jawab. Tinggi-rendahnya keinginan kita untuk &#8216;menjadi&#8217; berhubungan dengan tinggi-rendahnya daya juang kita mengalahkan tantangan. Keinginan (standar prestasi) yang rendah akan menggoda kita untuk melihat tantangan kecil menjadi besar dan sebaliknya keinginan yang tinggi akan memberikan pil &#8216;ketidakrelaan&#8217; kalau kita sampai dikalahkan oleh tantangan kecil maupun besar. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">&#8216;Mengetahui&#8217; (to know) punya hubungan dengan keputusan untuk bertindak (decision to do). Seperti kata Jhon C. Maxwell, kalau kita benar-benar tahu apa yang kita inginkan maka tidak sulit bagi kita  untuk melakukan apa yang kita ketahui. Dengan menjalankan keputusan menurut apa yang dijabarkan oleh pengetahuan yang kita dapatkan dari konsep dan praktek, akan membuat keputusan itu bergerak maju (beraksi), dari dalam ke luar, bukan hanya aktivitas, kesibukan dan gerakan yang tidak jelas arahnya (reaksi).</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">&#8216;Melakukan&#8217; (to do) punya hubungan dengan kemampuan kita menjawab (tanggung jawab). Aksi seseorang tidak lahir dari pemikiran, tetapi lahir dari kesediaan untuk menjawab tanggung jawab atas dirinya, begitulah kata Dietrich Bonhoeffer. Tanggung jawab adalah aksi yang bisa melahirkan solusi, kalau tidak seluruhnya ya sebagiannya atau minimalnya tidak menambah jumlah problem. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Semoga bermanfaat untuk kita semuanya terutama untuk saya tentunya.<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metrolisa.info/447.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masihkah kita mendustakan Nikmat Tuhan ?</title>
		<link>http://metrolisa.info/masihkah-kita-mendustakan-nikmat-tuhan.html</link>
		<comments>http://metrolisa.info/masihkah-kita-mendustakan-nikmat-tuhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Oct 2010 09:25:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[Nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metrolisa.info/?p=412</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana bila timur dan barat bersatu ? Bagaimana bila asin dan tawar bersatu ? Bagaimana bila Kapal tiada dapat berlayar kembali di air ? Bagaimana bila semua yang di bumi ini dibinasakan Nya ? Bagaimana bila setiap permintaan kita ditangguhkan atau bahkan ditolaknya ? Bagaimana bila kita di lemparkannya ke tempat yang paling buruk ? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><span style="color: #000080;">Bagaimana bila timur dan barat bersatu ?<br />
Bagaimana bila asin dan tawar bersatu ?<br />
Bagaimana bila Kapal tiada dapat berlayar kembali di air ?<br />
Bagaimana bila semua yang di bumi ini dibinasakan Nya ?<br />
Bagaimana bila setiap permintaan kita ditangguhkan atau bahkan ditolaknya ?<br />
Bagaimana bila kita di lemparkannya ke tempat yang paling buruk ?<br />
Bagaimana bila teriknya memanggang kita ?<br />
Bagaimana bila tiada tempat berteduh lagi ?<br />
Bagaimana bila air sudah tidak menghilangkan dahaga ?<br />
Bagaimana bila buah &#8211; buahan telah dipunahkannya ?<br />
Bagaimana bila semua perbuatan baik kita dihempaskan Nya ?<br />
Bagaimana bila tiada dapat berkata lagi ?<br />
Bagaimana bila Matahari dan bulan tiada beredar lagi ?<br />
Bagaimana bila langit berada diatas kepala kita ?</span></h3>
<h3><span style="color: #000080;">Mari kita renungkan bersama !</span></h3>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metrolisa.info/masihkah-kita-mendustakan-nikmat-tuhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Pernah Lupakan Mereka</title>
		<link>http://metrolisa.info/jangan-pernah-lupakan-mereka.html</link>
		<comments>http://metrolisa.info/jangan-pernah-lupakan-mereka.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Sep 2010 08:52:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[Pencerahan]]></category>
		<category><![CDATA[Tauziyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metrolisa.info/?p=397</guid>
		<description><![CDATA[Pada Saat Idul Fitri, semua umat Islam di seluruh penjuru dunia baik yang ada di pelosok desa maupun yang ada dikota, yang tua, muda sampai yang kecil dapat merasakan kebahagiaan khususnya kaum muslimin yang telah melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Semoga kebahagiaan ini tidak kita dapatkan di dunia saja akan tetapi juga kita rasakan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Pada Saat<a href="http://metrolisa.info/selamat-hari-raya-idul-fitri-1-syawal-1431-h.html"><strong> Idul Fitri</strong></a>, semua umat Islam di seluruh penjuru dunia baik yang ada di pelosok desa maupun yang ada dikota, yang tua, muda sampai yang kecil dapat merasakan kebahagiaan khususnya kaum muslimin yang telah melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Semoga kebahagiaan ini tidak kita dapatkan di dunia saja akan tetapi juga kita rasakan di akhirat kelak, Insya Allah.<span id="more-397"></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Mulai detik masuknya bulan Syawal kita semua telah dibersihkan dari semua dosa yang berhubungan dengan Allah SWT,  sebab baru saja kita semua melaksanakan ujian di dalam bulan suci Ramadhan, yakni melakukan puasa satu bulan penuh dengan menahan hawa nafsu, tadarrus al-Qur’an, tarawih, dan mengeluarkan zakat fitrah, serta ibadah lainnya, termasuk menyantuni fakir miskin, dan anak yatim. Yang selanjutnya kita akhiri dengan melaksanakan sholat Idul Fitri berjama’ah. Semua itu tidak lain untuk menunjukkan bahwa yang menang menguasai jiwa kita adalah <em>Nafsu Muthmainnah</em>, yaitu nafsu yang selalu patuh dan tunduk kepada Allah SWT, berbakti kepada orang tua, nafsu yang selalu mengajak kepada kemaslahatan, dan kemanfaatan yang didasari semata-mata tulus mencari ridho Allah SWT.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dengan demikian, marilah kita senantiasa menjaga kebersihan hati dan kebahagiaan ini dengan kontinu melaksanakan kebaikan di bulan Syawal dan bulan-bulan lainnya. Suatu kenyataan yang tak dapat kita pungkiri, bahwa pada hari raya Idul Fitri, kondisi setiap insan berbeda-beda, ada yang bergembira, ada juga yang bahagia bercampur aduk dengan kesedihan. Sebagaimana saudara kita yang saat ini masih terkena musibah dan bencana.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Kondisi yang demikian juga dialami oleh anak yatim yang masih membutuhkan belaian kasih sayang orang tuanya, kemana mereka harus mengadu. Yang mana mereka menyaksikan kebahagiaan teman-temannya dibelikan baju baru oleh orang tua mereka, diberi uang hari raya oleh orang tua mereka, mereka bisa melakukan salam sungkem kepada orang tua dan senantiasa bergandengan tangan. Akan tetapi bagi anak yatim, jangankan bersalam sungkem dengan orang tuanya, bertemu saja hanyalah sebuah impian belaka, dengan linangan air mata yang diharapkan bisa menghapus kerinduannya, pastinya dalam hati mereka bergumam,</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">“<em>Andai kata orang tua ku masih hidup, mungkin aku bisa bergandengan dan bersalam mesra dengan orang tuaku dan mungkin aku bisa bahagia seperti teman-temanku yang lain</em>”.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dan alangkah bahagianya mereka manakala rasa gembira yang kita miliki ini dapat kita bagi-bagikan kepada mereka, mari kita santuni mereka dengan santunan yang terbaik. Mari kita luangkan waktu sejenak untuk merangkul mereka, memberikan bahu kita sebagai ganti rasa kangen mereka terhadap orang tua mereka yang telah tiada.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Ada sebuah riwayat yang menceritakan: Ketika Nabi Muhammad SAW, berjalan-jalan, beliau melihat sekelompok anak-anak kecil dengan bangga dan bergembira mengenakan pakaian yang serba baru, bermain dan bergandengan dengan bapaknya, tetapi ada satu anak kecil yang menangis dan bersedih di bawah teras rumahnya, kemudian Rasulullah bertanya: “<em>Kenapa kamu nak sampai menangis tidak bergembira seperti teman-temanmu itu</em>”. Anak kecil itupun menjawab: “<em>Saya ingin memakai pakaian baru tapi tidak punya, dan saya juga ingin seperti teman-teman saya bergandengan mesra dengan ayahnya, tapi bapak saya sudah meninggal</em>”. Mendengar perkataan anak kecil itu, Rasulullah langsung berlinangkan air mata, kemudian anak itu dibawa pulang ke rumah beliau dengan mengatakan: “<em>Aku sekarang adalah ayahmu dan Siti Aisyah adalah Ibumu</em>”. Oleh sebab itu, Rasulullah bersabda yang artinya : “Aku dan orang-orang yang menyantuni anak yatim di dalam surga seperti ini (sambil menunjukkan jari manis dan jari tengah)”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metrolisa.info/jangan-pernah-lupakan-mereka.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Zakat Fitrah</title>
		<link>http://metrolisa.info/keutamaan-zakat-fitrah.html</link>
		<comments>http://metrolisa.info/keutamaan-zakat-fitrah.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 06:44:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[Idul Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat Fitrah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metrolisa.info/?p=387</guid>
		<description><![CDATA[Waktu terasa berputar begitu cepat, dan bulan penuh berkah ini akan meninggalkan segenap umat Muslim sebelum berjumpa kembali satu tahun mendatang. Ada satu kewajiban lagi yang harus ditunaikan umat Muslim, yakni berzakat fitrah. Inilah salah satu keharusan di Ramadhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Jadi, bisa dikatakan zakat fitrah merupakan rangkaian kesempurnaan ibadah seorang Muslim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Waktu terasa berputar begitu cepat, dan bulan penuh berkah ini akan meninggalkan segenap umat Muslim sebelum berjumpa kembali satu tahun mendatang. Ada satu kewajiban lagi yang harus ditunaikan umat Muslim, yakni berzakat fitrah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Inilah salah satu keharusan di Ramadhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Jadi, bisa dikatakan zakat fitrah merupakan rangkaian kesempurnaan ibadah seorang Muslim ketika mengarungi puasa Ramadhan ini.<span id="more-387"></span><strong> </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Yang berkewajiban membayar</strong></span></p>
<div style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Pada prinsipnya, setiap muslim diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya , keluarganya dan orang lain yang menjadi tanggungannya baik orang dewasa, anak kecil, laki-laki maupun wanita. Berikut adalah syarat yang menyebabkan individu wajib membayar zakat fitrah:<br />
</span></p>
<ol>
<li><span style="color: #000080;">Individu yang mempunyai kelebihan makanan atau hartanya dari keperluan tanggungannya pada malam dan pagi hari raya. </span></li>
<li><span style="color: #000080;"> Anak yang lahir sebelum matahari jatuh pada akhir bulan Ramadhan dan hidup selepas terbenam matahari.</span></li>
<li><span style="color: #000080;">Memeluk Islam sebelum terbenam matahari pada akhir bulan Ramadhan dan tetap dalam Islamnya.</span></li>
<li><span style="color: #000080;"> Seseorang yang meninggal selepas terbenam matahari akhir Ramadhan.</span></li>
</ol>
</div>
<div style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Besar Zakat</strong><br />
Besar zakat yang dikeluarkan menurut para ulama adalah sesuai penafsiran terhadap hadits adalah sebesar satu sha&#8217; atau kira-kira setara dengan 3,5 liter atau 2.5 kg makanan pokok (tepung, kurma, gandum, aqith) atau yang biasa dikonsumsi di daerah bersangkutan (Mazhab syafi&#8217;i dan Maliki)</span></div>
<div style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><br />
</span></div>
<div style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Waktu Pengeluaran </strong></span></div>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Zakat Fitrah dikeluarkan pada bulan Ramadhan, paling lambat sebelum orang-orang selesai menunaikan Shalat Ied. Jika waktu penyerahan melewati batas ini maka yang diserahkan tersebut tidak termasuk dalam kategori zakat melainkan sedekah biasa.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Penerima Zakat</strong><br />
Penerima Zakat secara umum ditetapkan dalam 8 golongan/asnaf (fakir, miskin, amil, muallaf, hamba sahaya, gharimin, fisabilillah, ibnu sabil) namun menurut beberapa ulama khusus untuk zakat fitrah mesti didahulukan kepada dua golongan pertama yakni fakir dan miskin. Pendapat ini disandarkan dengan alasan bahwa jumlah/nilai zakat yang sangat kecil sementara salah satu tujuannya dikeluarkannya zakat fitrah adalah agar para fakir dan miskin dapat ikut merayakan hari raya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Berikut penjelasan dari 8 golongan itu :</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Fakir</strong>, &#8220;Fakir dalam persoalan zakat ialah orang yang tidak mempunyai barang yang berharga dan tidak mempunyai kekayaan dan usaha sehingga dia sangat perlu ditolong keperluannya&#8221;. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Miskin</strong>, Sekali lagi bahwa zakat itu hutang kepada Allah : &#8220;Miskin dalam persoalan zakat ialah orang yang mempunyai barang yang berharga atau pekerjaan yang dapat menutup sebagian hajatnya akan tetapi tidak mencukupinya, seperti orang memerlukan sepuluh dirham tapi hanya memiliki tujuh dirham saja. Jadi dengan kaidah di atas, bahwa fakir itu lebih parah dari miskin.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Amil</strong>, &#8220;Amil ialah orang yang ditunjuk untuk mengumpulkan zakat, menyimpannya, membaginya kepada yang berhak dan mengerjakan pembukuannya&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Mualaf, </strong>Mualaf ada 4 macam :<br />
Pertama : Mualaf muslim ialah orang yang sudah masuk Islam tapi niatnya atau imannya masih lemah,maka diperkuat dengan diberi Zakat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Kedua : Orang telah masuk Islam dan niatnya cukup kuat, dan ia terkemuka di kalangan kaumnya. Ia diberi zakat dengan harapan kawan kawannya akan tertarik masuk Islam.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Ketiga : Mualaf yang dapat membendung kejahatan orang kafir yang di sampingnya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Keempat : Mualaf yang dapat membendung kejahatan orang yang membangkang membayar zakat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Bagian ketiga dan keempat kita beri zakat sekiranya mereka kita perlukan, misalnya karena mereka kita beri zakat, maka kita tidak usah menyediakan angkatan bersenjata guna menghadapi kaum kafir atau pembangkang zakat yang biayanya pun akan lebih besar. Adapun polongan pertama dan kedua maka kita beri zakat tanpa syarat&#8221;.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Riqab</strong>, Yang artinya mukatab ialah budak belian yang diberi kebebasan usaha mengumpulkan kekayaan agar ia dapat menebus dirinya untuk merdeka. Dalam hal ini ada syarat, bahwa yang menguasai atau memilikinya sebagai budak belian itu bukan si muzakki sendiri sebab jika demikian maka uang zakat itu akan kembali kepadanya saja. Demikian Al Bajuri jilid 1 halaman 294 : &#8220;Adapun mukatab oleh atau bagi muzakki tidak boleh diberi zakatnya, karena faidah pemberian zakat itu akan kembali kepadanya&#8221;.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Gharim, </strong>Gharim ada tiga macam :<br />
Pertama : orang yang meminjam guna menghindarkan fitnah atau mendamaikan pertikian/permusuhan.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Kedua : orang yang meminjam guna keperluan diri sendiri atau keluarganya untuk hajat yang mubah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Ketiga : orang yang meminjam karena tanggungan, misalnya para pengurus masjid, madrasah atau pesantren menanggung pinjaman guna keperluan masjid, madrasah atau pesantren itu&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Sabilillah</strong>., &#8220;Sabilillah ialah jalan yang dapat menyampaikan sesuatu karena ridla Allah baik berupa ilmu maupun amal. Jumhur Ulama mengartikan sabilillah di sini adalah perang. Bagian sabilillah (dari zakat) itu diberikan kepada para angkatan bersenjata yang lillahi-ta&#8217;ala artinya tidak mendapat gaji dari pemerintah.&#8221; Pada zaman ini yang paling pentig bagian sabilillah itu ialah guna membiayai para propagandis Islam dan mengirim mereka ke negara-negara non Islam guna penyiaran agama Islam oleh lembaga lembaga Islam yang cukup teratur dan terorganisasi. Termasuk sabilillah ialah nafkah para guru-guru sekolah yang mengajarkan ilmu syariat dan ilmu-ilmu lainnya yang diperlukan oleh masyarakat umum&#8221; Soal sabilillah ini sebaiknya kita mengambil faham yang luas, sebab jika mengambil faham yang sempit sekarang ini di Indonesia tidak ada sabilillah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Ibnussabil</strong>, &#8220;Adapun ibnusabil ialah orang yang mengadakan perjalanan dari negara di mana dikeluarkan zakat, atau melewati negara itu. Dia dia diberi zakat jika memang menghajatkan dan tidak bepergian untuk ma&#8217;siat&#8221;. Bagian ini tidak setiap waktu ada, akan tetapi baiklah untuk itu disediakan sekedarya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metrolisa.info/keutamaan-zakat-fitrah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

