2010 12 Mar

Pendidikan moral berbasis kearifan local sebagai bagian dari upaya mengenalkan dan mendekatkan anak didik dalam bertingkah laku, baik dalam keluarga maupun hidup bermasyarakat dalam lingkungan sekolah nampaknya semakin termarginalkan.

Lembaga pendidikan dan orang-orang terdidik dalam sekolah formal sering menjadi sorotan, karena pola berbicara dan bertindak dengan moral rendah adalah praktik orang-orang terdidik. Sementara kepolosan dan kejujuran masih ditemukan pada orang-orang yang berpendidikan sangat rendah atau buta huruf.

Lalu, mungkinkah pendidikan moral (apa pun nama dan sumbernya) di sekolah-sekolah akan membekas tertanam pada anak didik, ketika orang-orang terdidik yang terlebih dahulu belajar pendidikan moral, masih ditambah beragama dan beribadah terus-menerus, menunjukkan diri sebagai manusia barbar primitif?

Persoalan terbesar dalam pendidikan nasional, bukan hanya kurikulum yang mengikuti maunya menteri, tumpang-tindih, dan berat, UAN yang dipaksakan, tetapi juga kualitas tenaga pendidik yang sangat rendah terkait dengan keteladanan. Selama ini kualitas tenaga pendidik (guru) dari tingkat terendah (TK) hingga tertinggi (guru besar/profesor) hanya diukur dari nilai atau angka-angka.

Tenaga pendidik ini kemudian menggunakan indikator yang sama untuk mengukur anak didiknya. Anak didik kemudian diklasifikasi anak bodoh dan anak pintar berdasarkan angka-angka yang diperoleh. Bahkan anak dianggap pintar jika nilai tertinggi didapatkan pada mata pelajaran ilmu-ilmu alam, matematika, fisika, kimia, dan biologi.

Anak-anak yang mempunyai kecerdasan dan memperoleh nilai tertinggi di bidang musik, sastra, menggambar, olahraga, moral, dianggap biasa-biasa saja, untuk tidak dikatakan bodoh.

Penilaian berdasarkan angka-angka atau IQ semata selain mengabaikan kecerdasan anak-anak didik yang berotak kanan, tetapi juga menghasikan manusia-manusia “robot” atau pekerja tanpa nurani yang siap mengisi pasar kerja dalam suatu sistem ekonomi.

Guru-guru yang diproduksi oleh berbagai lembaga pendidikan tidak lebih dari pekerja-pekerja yang akan diserap oleh lapangan kerja bernama sekolah, mereka digaji karena bekerja. Artinya lembaga pendidikan/sekolah adalah tempat mencari kerja, tidak berbeda dengan lapangan kerja atau institusi ekonomi lainnya.

Perilaku yang memprihatinkan sering menjadi sorotan beberapa media, kepala sekolah didemo karena menyelewengkan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), guru ditangkap polisi karena membuat muridnya babak belur, dosen dan guru besar menjadi plagiat, atau calon guru besar mencetak buku dengan isi dan kualitas cetak yang memprihatikan, dan seterusnya. Perilaku tersebut bukanlah tampilan dari seseorang yang disebut guru, yang harus digugu dan ditiru. Mereka hanyalah pekerja bermoral rendah.

Praktik guru-guru di atas diteruskan oleh anak-didiknya dan terus berputar menjadi lingkaran kejahatan yang dianggap biasa. Murid SD tidak malu bercerita ketika dirinya menyontek, bahkan menjadi kebanggaan. Di tingkat lebih tinggi contek-menyentok menjadi profesi dalam bentuk joki. Sementara plagiat dilakukan mulai siswa, mahasiswa hingga guru besar.

Pendidikan butuh keteladanan dan guru adalah teladan itu sendiri. Sejarah nabi/rasul dan tokoh-tokoh besar adalah sejarah keteladanan. Karena keteladanan, misi mereka berhasil dan hingga kini terus diteladani. Mereka mempraktikan moral sangat tinggi dalam berbicara dan bertingkah laku dalam keluarga dan hidup bermasyarakat. Sayangnya teladan mereka hanya menjadi bahan ajar sekadar memenuhi tuntutan kurikulum di berbagai mata pelajaran.

Published under Analisasend this post

14 Responses to “PENDIDIKAN MORAL YANG SEKARAT”

  1. Vulkanis says:

    Memastikan yang Pert5amaaxx Bang

    [Reply]

    Bang_Iwan Reply:

    So… pastilah Kang..
    .-= Bang_Iwan´s last blog ..KONTROVERSI SUPERSEMAR =-.

    [Reply]

  2. Nyach says:

    ok dan sip bang

    [Reply]

  3. cahyadi says:

    kayaknya pendidikan moral memang sudah saatnya masuk ke dalam kurikulum pengajaran dan mulai segera dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari ya bang?
    .-= cahyadi´s last blog ..Hidup Adalah Belajar =-.

    [Reply]

  4. Ruang Hati says:

    prihatin memang bila memperhatikan kondisi kita sekarang yang mengalami degradasi moral.
    salam hangat untuk Bang Iwan serta keluarga sekalian

    [Reply]

  5. Bee'J says:

    pendidikan moral memang perlu, bukan hanya di sekolah, tapi juga di rumah. Mudah-mudahan pendidikan moral kita tidak sekarat ya bang…. :)
    .-= Bee’J´s last blog ..Serpihan Hikmah =-.

    [Reply]

  6. udung says:

    repotnya pendidikan moral yang dibentuk dari keadaan lingkungan sekitar ada kalanya bisa membuat bulu kuduk berdiri, dilema hubungan dengan status sosial bagai makan buah simalakama… *duh… postingan yg berat”
    .-= udung´s last blog ..Windows Live Writer Portable Ver. 3 =-.

    [Reply]

  7. attayaya says:

    pendekatan agama juga diperlukan bang
    lingkungnan pun tak lepas peranannya
    lalu, ketika moralitas pendidik berkurang, akan berimbas ke anak didik
    guru kencing berdiri
    murid kencing berlari
    maaf bang

    [Reply]

  8. dari mana generasi kini bisa melihat teladannya?
    wong, dr mulai mahasiswa yg senang tawuran sampai anggota kabinet yang seneng berantem, juga pemimpin yg kurang tegas, jadi dimana bisa didapatnya teladan atau panutan utk anak didik sekarang ?
    wah, kok malah jadi tambah mumet dan semrawut dgn segala macam bentuk pendidikan yg hanya menghargai keaktifan otak kiri saja, kapan otak kanan akan terasah? belum lagi, nasib guru2 di daerah apalagi dipedalaman yg tdk terurus,padahal para guru ini juga punya keluarga yg perlu makan juga pendidikan utk anak2 mereka.
    weleh,weleh,, tapi kita tetap tdk boleh pesimis, jadikanlah diri kita paling tidak teladan dan panutan didlm keluarga sendiri.
    Maaf bang, kok jadi kepanjangan nih komennya he he terlalu bersemangat he he
    salam hangat utk keluarga.
    semoga selalu sehat.
    salam.
    .-= bundadontworry´s last blog ..6 Sarang Kuman Yang Terlupakan =-.

    [Reply]

  9. ina says:

    keteladanan dan guru…
    yupz… klo di daerah ina nih bang, Jawa mksdnya…
    GURU itu Digugu lan Ditiru
    mksdnya di patuhi dan ditiru :D
    hehehehe :D

    [Reply]

  10. aprillins says:

    kalau menurut saya sih, karena perilaku lintas zaman selalu berganti, maka perlu pendekatan yang lebih spesifik dan khusus dalam mengajarkan moral baik itu langsung maupun tidak langsung.. sehingga yang diajarkan benar2 tertanam dalam dirinya dan otomatis dengan sukarela mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.. menurut saya ini persoalan pendekatan dalam mendidik :cool: bagus artikelnya pak iwan..
    .-= aprillins´s last blog ..Artikel Ditanggapi Siswa SMP yang Mau Ujian Nasional =-.

    [Reply]

  11. RosalynLyons says:

    I will recommend not to wait until you earn enough amount of cash to order different goods! You can just get the personal loans or small business loan and feel yourself free

    [Reply]

  12. Corbin says:

    I just linked this article on my facebook account. it’s an interesting read for everyone

    [Reply]

  13. atv parts says:

    I palm supervision look after of brush off a fixed quarters sustain to your blog uncountable times. The added articles are incredibly captivating and interesting. I unmistakable to signup during your rss purvey, so I can custodian cultured of your modish editorials.

    [Reply]

Leave a Reply

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 13 + 7 ?
Please leave these two fields as-is:

Switch to our mobile site