2010 26 Jul

Jika perjalanan tafakur kita menembus batas-batas cakrawala, menapak langit-langit hingga Sidratul Muntaha, pastilah berakhir dengan keterjengahan hati kita, bahwa segalanya menuju, demi dan untuk Rabbul Izzah, Allah Ta’ala. Itulah awal perjalanan keikhlasan kita, disaat tafakur sunyi menapakai “Inna sholaati wa-Nusukii wa-Mahyaaya wa Mamaatii Lillahi Robbil ‘Alamin.” (Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah.).
Menuju Arsy kita bertemu dalam hamparan Liqo’ Allah, dalam sunyi paling sunyi, karena segala hal selain Allah sirna, dan yang ada hanyalah Wajah Allah. Tetapi dalam sunyi paling sunyi, ghuyubul ghuyub itu, betapa tiada terperi, berhamparan cahaya yang meramaikan, lebih ramai dari keramaian apapun juga, karena KemahaanNya Yang Rahman bersinggasana mengatur semesta.

Seluruhnya berada dalam genggamanNya yang serba sunyi senyap dalam ghuyubul ghuyub, dan ketika dilepaskannya dalam hamparan keleluasaanNya, betapa ramainya dalam taburan tasbih kepadaNya, atas Kemahasucian asma-asmaNya.

Kita baru memahamiNya ketika kembali ke dunia nyata, dengan segala keramaian peradaban, kesemrawutan manusia, tumpukan- tumpukan problema yang silih berganti antara cahaya dan kegelapan, bahkan suara-suara, rupa warna tiada tara, toh berujung pada kesunyian hati dalam sudut paling lorong, ada denyut jantung terus bersamaNya.

Bagaimana tidak? Yang nyata dalam fenomena, yang tampak oleh mata kepala, yang terdengar oleh telinga, yang teraba oleh indera, telah membawa tarikan pesona yang mengalpakan kita di lembah Ghafalat, yang dibuai oleh tarian-tarian syahwat, telah melemparkan kita di batas Hijab: kita telah berada dalam jurang jinabat. Dan Rumah Allah melarang orang-orang junub untuk memasukinya, kecuali telah bersuci dari Jinabat Ghafalat (kealpaan pada Allah)-nya.

Bertanyalah kepada bukit biru menjulang gagah, siapakah anda? Bertanyalah pada gulungan-gulungan ombak di lautan, siapakah anda? Bertanyalah desau angin nan lembut dan badai yang menggelora, siapakah anda? Bertanyalah pada bunga tulip di pagi hari ketika mekar bersama gejora dan fajar hari, siapakah anda? Bertanyalah kepada api yang membakar dan seluruh energi semesta, siapakah anda? Ternyata semua menjawab serentak dalam “harmoni konser pesona”: “Sesungguhnya kami adalah fitnah, maka janganlah anda kufur!”. Jawaban yang meledakkan seluruh dirinya, merobek seluruh nafsu kita, mencekam seluruh ketakutan, dan sekaligus mendendam kerinduan cinta kita.

Anda mau lari dari kenyataan? Lari dari gigitan paling pedih dari kesunyian ruhani anda? Lari dari keterlemparan diri anda akibat dosa dan kegelapan? “keinginanmu untuk lari menuju Tuhan dan hanya ingin sendiri bersamaNya, hanya ingin ‘anda dan Dia’, sedangkan kenyataannya anda harus menghadapi dengan alam fikiran, logika sebab akibat, hasrat anda itu tadi hanyalah Nafsu tersembunyi dalam bilik ketololan, kemalasan, ketidak beranian, kepengecutan, dan kelelahan hati anda.”

Hadapilah! Karena Allah tak pernah hilang, tak pernah ghoib, tak pernah berjarak, tak pernah bergerak atau diam, tak pernah berpenjuru atau bernuansa, tak pernah berbentuk dan berupa, tak pernah berwaktu dan ber-ruang. Tak ada alasan apapun yang bisa menutup, menghijabi, menghalangi, menirai Allah dari dirimu, apalagi sekedar untuk “menyendiri bersamaNya” dalam hiruk pikuk dunia. Tanpa harus melepaskan tantangan zaman, perjuangan, kegairahan kehambaan, kita tak pernah terhalang sedetik pun untuk menggelayut di “PundakNya” apalagi bermesraan dalam pelukanNya.

Jika ruang sunyi di hatimu terganggu oleh buar dan suara-suara nafsu, masuklah ke dalam bilih ruhmu, karena dalam bilik ruhmu ada hamparan agung Sirrmu, dimana sunyimu menjadi sirnamu kepadaNya, bahkan tak kau sadari kau panggil-panggil namaNya, karena kau telah berdiri di depan GerbangNya. Kelak kita bisa kembali bersamaNya, untuk melihat dunia nyata yang tampak di mata kepala, “BersamaNya aku melihat mereka,” begitu sunyi ungkapan Abu Yazid Bisthami kita.

Inilah awal keberangkatan kita,
menuju tetapi dituju,
memandang tetapi dipandang,
melihat tetapi dilihat,
bergerak tetapi diam fana,
berkata tetapi bisu,
memanggil tetapi dipanggil,
bersyari’at tetapi hakikat,
berhakikat tetapi syari’at,
bertangis dalam senyuman
senyum tak menahan airmata
bersunyi-sunyi tetapi ramai
beramai-ramai tetapi sunyi

Lalu kita berbondong-bondong menempuh jalan Khalwat, menuju Gua Hira Agung tak terperi, Hira’ hamparan hati. Agar hati lebih luas dari Arasy Ilahi, berbondong-bondong melepaskan atribut- atribut manusiawi, dan apapun alasan dan alibi kewajaran kita, agar kita tak punya alasan lagi, untuk tidak durhaka kepadaNya, untuk tidak menghindariNya, untuk tidak berselingkuh dengan selain DiriNya, untuk tidak memproduksi bermilyar-milyar syetan setiap hari, untuk tidak menyembah ribuan berhala dalam hati.

Kita keluar dari khalwat menuju ‘Uzlah Jiwa lihatlah betapa sunyinya keramaian peradaban manusia, betapa senyapnya suara-suara yang berdesing atau bagaikan nyanyian tapi sunyi. Kecuali yang ramai di detak jantungmu, Allah Allah Allah, Subhanallah Walhamdulillah wa-Laailaaha Illallah Allahu Akbar, menyelimuti seluruh keramaian semesta. Sampai semesta sunyi dalam kefanaan, Allahu Akbar! Walillahil Hamd. Maha Puja Puji bagi AbadiNya.


Published under Teropongsend this post

42 Responses to “Ramai dalam Kesunyian | Sunyi dalam Keramaian”

  1. Jabon says:

    judulnya di balik,,, hehehe
    pertamax…..

    [Reply]

    Vulkanis Reply:

    Bolak balik dong

    [Reply]

  2. Jabon says:

    tapi oke bro.. puitis banget enak membacanya…

    [Reply]

    Vulkanis Reply:

    Makasih Bro

    [Reply]

  3. PUTRI MALU says:

    Ada yang ramai diantara yang sepi, seperti halnya ada yang datang diantara yang pergi.

    [Reply]

    PUTRI MALU Reply:

    Bahasanya sangat sufistik (istilahnya benner nggak yah?)

    [Reply]

    Vulkanis Reply:

    Yang rame nonton piala dunia yang sepi di kuburan :ngakak

    [Reply]

  4. dah lama nggak komeng kesini, ganti baju nih bang, sip banget

    [Reply]

    ruang hati blog Reply:

    loadingnya juga cepat banget sangat SEO friendly nih :2thumbup :2thumbup

    [Reply]

    Vulkanis Reply:

    Awas jangan ngintip kalo lagi ganti baju :D

    [Reply]

  5. keren dah pokoknya :recsel

    [Reply]

    Vulkanis Reply:

    Mantaappppp banget bang

    [Reply]

  6. Tak mampu memberikan komen Bang… karena isi postingan ini luar biasa…

    [Reply]

    Vulkanis Reply:

    :thanks2 mangtaps

    [Reply]

  7. speechless………………
    (sambil tersedu2……) :(
    salam

    [Reply]

  8. speechless………….
    (sambil tersedu2……………..) :(
    salam

    [Reply]

  9. BlogCamp says:

    Membaca artikel seperti ini harus dalam suasana hening, hening dalam alam nyata dan hening dalam hati kita.

    Dalam keheningan itulah kita bisa menyapa dan sekaligus meminta kepada Allah Swt agar kita tetap dalam genggaman cinta Ilahi.

    Terima kasih atas artikelnya yang mengalir sejuk di kalbu.

    sala hangat dari Surabaya

    [Reply]

    Vulkanis Reply:

    Salam hangat dari Medan

    [Reply]

  10. julicavero says:

    saya ngebacanya jadi kebayang betapa parahnya kalo sampe merasa sunyi dalam keramaian

    [Reply]

  11. darahbiroe says:

    waduw
    cocok bagi orang yang sakit gigi kali yaw
    tetep merasa sepi dalam keramaian
    juzt kidding
    hehhe
    :d

    [Reply]

  12. munir ardi says:

    loadingnya ringan bang iwan

    [Reply]

  13. munir ardi says:

    semoga kita selalu merasakan kehangatan karena tuntunan Nya

    [Reply]

  14. Alwi says:

    sunyi bersama Allah dalam keramaian dunia
    Uzlah yang diartikan sunyi bersama Allah dalam keramaian dunia,
    secara fisik kita tidak mengasingkan diri dari
    keramaian, secara fisik kita selalu hadir dalam aktivitas dunia kita dan akal
    pikiran kita tetap bekerja dalam aktivitas kesehariannya sebagaimana biasa,
    namun hati kita harus tetap sunyi dari itu semua. Hati kita harus tetap sunyi,
    yang ada hanya Allah. Jadi uzlah kita dalam keramaian dunia adalah dengan
    mengosongkan hati dari keramaian dunia itu sendiri sehingga menjadi sunyi dan
    hanya Allah yang hadir di dalamnya, sehingga sunyinya adalah bersama Allah.
    Semestinya, seharusnya dan idealnya uzlah yang seperti itu berjalan terus
    menerus tanpa jeda waktu sebagaimana para arifun yang telah mencapai kekekalan
    dalam penyaksian mereka kepada Allah.
    Kalau kita2 ini kyaknya masih jauh banget dari
    yang seharusnya atau yang semestinya atau yang ideal itu. Kita kadang masih terikat
    dengan hukum sebab akibat, sehingga seringkali kita berpikir tentang
    tanggung jawab, pekerjaan atau yang lainnya, yang pada intinya diri kita selalu
    hadir dalam keramaian dunia namun keramaian itu sangat-sangat sering masuk juga
    ke dalam hati kita. Karena itu masih terus berjuang, masih terus belajar dan
    berlatih uzlah walau hanyaa sesaat semenit sejam 2 jam dst …

    [Reply]

  15. Alwi says:

    OOT ; Font warna judul postingan dan sidebar kayaknya kurang kontras Bang ….

    [Reply]

    Bang Iwan Reply:

    Nah loh…. cara ngerubahnya gimana Kang?

    [Reply]

  16. Alwi says:

    ramai bersama Allah dalam kesunyian dunia
    Uzlah yang diartikan ramai bersama Allah dalam kesunyian dunia, harusnya ketika seseorang dalam kesendiriannya, apakah itu karena
    memang lagi berada di suatu tempat yang sepi atau sejenak menarik diri dari
    keramaian atau pun memang sengaja berniat uzlah dengan mengasingkan diri, maka ketika dalam kesunyian itu,
    hatinya harus tetap ramai karena ada Allah bersamanya. Dalam kesendirian dan
    kesunyian, di sana pasti selalu ada Allah, sehingga semestinya hati kita selalu
    ramai bersama Allah di dalamnya.

    Wallhu ‘alam ….

    [Reply]

  17. Alwi says:

    Thank, artikel yg mencerahkan, semoga makin menambah keimanan kita setelah membacanya …

    [Reply]

    Bang Iwan Reply:

    Semoga saja Kang,.. Amin. terlebih lagi kepada yang nulia tentunya.

    [Reply]

  18. attayaya says:

    dalam keheningan bersama-MU
    kudapati keramaian orang beriman

    [Reply]

  19. ok banget artikelnya…semoga bermanfaat bagi kita semua

    [Reply]

  20. Vulkanis says:

    jangan dibayangin ah

    [Reply]

  21. qomar says:

    cukup jelas….! bahkan kalau perlu ditambah bahasax biar tambah teRASA nikmat…^_^

    [Reply]

  22. maria says:

    kunjungan pagi bang ,apa kabar.
    dipeluk rasa memeluk penuh seluruh ruang.
    hati memuja beruntun menit demi wartumu
    menyelam dalam kesunyian penuh bahagia
    menatap nyata dalam pendangan dan memandangmu
    ya robby engkau itu ……………..satu menyeluruh.

    ini tambahanku bang. salam hangat dari jawa

    [Reply]

  23. rohmat says:

    subhanallah … smoga Sang Maha Raja Cinta memberikan anda kesempurnaan dalam Cahaya Cintanya

    [Reply]

  24. I am alone but not lonely…

    [Reply]

  25. hadis yp says:

    indah.. terima kasih ma tulisannya yang udah bikin memberikan kesadaran, bravo..

    [Reply]

  26. I provide be shown struggling against odds to your blog incalculable times. The added articles are incredibly captivating and interesting. I unmistakable to signup during your rss fodder, so I can vamoose boloney up away in the pigeon-hole of your unused editorials.

    [Reply]

  27. Jera says:

    Pin my tail and call me a donkey, that really hepeld.

    [Reply]

  28. Some specialists say that loan aid people to live the way they want, because they are able to feel free to buy needed goods. Furthermore, banks present term loan for all people.

    [Reply]

  29. wkkfzawjrja says:

    OsfMol , [url=http://gkripznvqkom.com/]gkripznvqkom[/url], [link=http://kfxhtdvkzxyl.com/]kfxhtdvkzxyl[/link], http://jfwgvczfxbva.com/

    [Reply]

Leave a Reply

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 6 + 6 ?
Please leave these two fields as-is:

Switch to our mobile site